Kategori
Tidak Dikategorikan

PENASARAN

Disini aku hanya numpang foto. Nggak sempat masuk ngelihat benda-benda bersejarah yang dimusiumkan di dalamnya.

Barangkali aku terlalu ’eman-eman’ mengeluarkan uang untuk beli tiket, yang tentunya tidaklah murah untuk ukuran orang sepertiku.

Kadangkala keinginan pun harus kita bendung kuat-kuat, meski bernilai positif. Kalau tidak sekarang ya nanti. Entah, nanti itu kapan!? Waallhua’lam😊

Kategori
Tidak Dikategorikan

SANTRIPENER

Bersama kawan-kawan santri, sekaligus pelanggan setia.

Sewaktu masih nyantri, aku sama satu temenku iseng-iseng buka jualan di dalam pondok. Awalnya kami berdua iuran 20 rb,an dan terkumpul uang 40 rb Kemudian kami belanjakan ke pasar beberapa renteng jajan 500,an.

Tempat jualan tersebut kami beri nama TBT (toko bawah tangga) supaya mudah diingat. Karena lokasinya benar-benar berada dibawah tangga asrama.

Selang beberapa waktu, ternyata makin banyak teman2 yang tertarik beli jualan kami. Setiap keuntungannya selalu kami kumpulkan untuk dibelanjakan kembali, sehingga makin banyak varian makanan dan minuman yang kami jual.

Dari usaha ini kami bisa lebih mandiri dan tidak terlalu membebankan orang tua untuk mengirimkan uang bualanan. Bahkan biaya Ujian Nasional pun aku bisa bayar dari uang hasil jualanku.

Namun sangat disayangkan, moment seperti ini hanya terlampaui di tahun terakhir nyantri. Karena kami harus segera diwisuda dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, atau sebagian temanku yang lebih memilih langsung bekerja.

Semoga setiap yang kami usahakan mendapat berkah dari Allah swt. Aminnn..
.

Kategori
Tidak Dikategorikan

Menanam Sikap Toleransi ditengah Keberagaman

Indonesia merupakan negara  bekas jajahan. Sebelum kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 Indonesia disebut sebagai Hindia-Belanda. Berkat perjuangan para pahlawan yang rela mati melawan penjajah, akhirnya Indonesia berhasil merdeka. Sampai sekarang terhitung sudah 74 tahun Indonesia merdeka.


Indonesia memiliki penduduk yang beragam, mulai dari budaya, agama, bahasa dll. Disamping itu terdapat kekayaan yang melimpah, apabila dikelolah dengan baik maka cukup untuk menghidupi masyarakat dan memajukan sistem pemerintahannya. Akibat dari penduduk yang sangat plural, dibutuhkan rasa toleransi yang tinggi untuk memupuk perdamaian dan saling menghormati antar perbedaan. baik suku, budaya, agama dll.


Untuk memajukan suatu negara, kiranya perlu ditanamkan aspek moral terhadap warga negara untuk meningkatkan kecintaannya terhadap negaranya. Hal ini sangat penting, terlebih bagi Indonesia yang tergorlong masih negara berkembang, maka dibutuhkan kesolitan dan saling besinergi membangun Indonesia agar lebih baik.


Selain penanaman aspek moral yang  harus dimiliki setiap warga negara. Negara juga perlu memperdulikan pengembangan intelektual. Negara barat seperti Amerika Serikat bisa dikatan sebagai negara maju karena tingkat kepedulian terhadap nilai intelekual sangat tinggi hingga mampu menciptakan teknologi-teknologi baru yang bisa dimanfaat oleh orang seluruh dunia.


Pada dasarnya bangsa Indoesia memiliki potensi yang sangat bagus, artinya tidak kalah jauh dari orang barat. Bahkan ada beberapa orang Indonesia yang mejadi bagian penting di barat yang mendesain tteknologi baru mutaakhir. Indonesia seharusnya bisa menyediakan tempat sebagai penyaluran keahlian yang dimiliki warga negaranya.


Anak muda merupakan penerus perjuangan bangsa. Wawasan kebangsaan seharusnya dimiliki oleh anak muda. Mulai dari sejarah indonesia, politik Indonesia, budaya Indonesia dan masih banyak lagi yang harus diketahui. Dari  wawasan tersebut bisa menumbuhkan jiwa patriotisme. Dengan begitu bisa melihat kekurangan dan kelebihan yang ada di tubuh bangsanya. Anak muda bisa mengawali cinta terhadap negaranya dari yang paling kecil, semisalnya mengikuti karang taruna di desa-desa guna membuat kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.


Wawasan kebangsaan juga perlu dikampanyekan oleh semua tataran masyarakat, khususnya oleh pemerintah dengan membuat seminar kebangsaan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan begitu masyarakat akan semakin tau terkait hakikat sebagai warga negara. Sebagai contoh yakni festifal kebangsaan yang digelar di Universitas Muhammadiyah Malang pada 2019 silam. Meskipun ada sebagian yang tidak setuju, namun pada intinya acara tersebut mebawah unsur kebaikan.


Dari sekian banyak penduduk Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sikap toleransi sangat penting untuk memupuk perdamaian antar perbedaan. Supaya tidak terjadi persetruan atau bahkan perperangan antar agama seperti Islam dan kristen di Ambon atau bahkan pertarungan antar suku seperti orang Madura dan Kalimantan di Sampit yang menewaskan hampir 500 ribu orang.


Pemerintah sebagai pengendali bangsa sudah seharusnya memberikan contoh toleransi kepada warga negaranya. Selain itu juga memeberikan contoh moral yang baik dengan cara amanah terhadap jabatan yang diberikan dan tidak korupsi uang rakyat. Apabila pemerintahannya baik maka bisa dijamin masyarakat akan mengikutinya.


Dari penulisan ini bisa diambil sebuah pelajaran. Bahwa untuk menjadikan bangsa yang maju dan sejahtera maka dibutuhkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Dengan ini pula Indonesia akan sulit diruntuhkan dari serangan-serangan pihak luar.

Kategori
Tidak Dikategorikan

Enam Alasan kenapa Aku Masih Kekeh Pergi Ke Kampus

Hallo… Apa kabar semua, masih sehat-sehat saja kah? Di tengah maraknya penyebaran Covid-19 dan anjuran untuk #dirumahaja. Mungkin aku tergolong manusia yang super keras kepala menaggapi hal tersebut. Jujur, terkadang aku masih keluar rumah untuk kepentingan tertentu. 


Pada tulisan kali ini aku akan memberikan enam alasan sebagai klarifikasi atas ulahku yang masih suka ke kampus .Btw, biar nggak dianggap sembronoh. Hahaha….


Pertama, kampus adalah pusatnya pendidikan. Dimana banyak tokoh-tokoh hebat dunia yang berasal dari didikan kampus. Meskipun sekarang aktifitas perkulihahan di kampus diganti dengan Platform daring, namun rasanya tidak bisa begitu saja mengalihkan metode pembelajaranya. Mungkin karena sudah merasa nyaman, akhirnya aku masih suka pergi ke kampus dengan sejumlah aktifitas.


Kedua, seluruh unit pelayanan kampus masih berjalan sebagaimana mestinya. Artinya, para dosen dan seluruh karyawan, mulai dari satpam, juru parkir, dan cleaning service tidak ada libur kerja. Perpustakaan adalah tempat favorit yang sering aku kunjungi, untuk mengerjakan tugas atau skedar membaca buku sebagai refleksi pemikiran.


Ketiga, jauh dari kerumunan massa. Yang aku ketahui, salah satu pemicu penyebaran Cofid-19 adalah  kerumuman massa. Kampus yang diidentikan objek bertemunya orang banyak, namun sekarang tidak berlaku. Bahkan ketika aku masuk perpustakaan, hanya ada penjagannya tanpa pengunjung, keculi aku dan satu temanku. Dari fenomena iki akhirnya aku merasa aman-aman saja dan tidak terlalu khawatir terkena virus.


Keempat, Jaringan wifi super cepat. Tentu hal ini sangat mendukung proses kulia online dan mengerjakan tugas-tugas online. Selain itu aku juga bisa mengakses jurnal-jurnal ilmiah sebagai bahan Refrensi. Keuntungan selanjutnya adalah data paket yang aku punya tidak cepat habis dan tidak perlu bolak balik ke konter.


Kelima,  olah raga di stadion kampus. Sejak tinggal di pondok aku mempunyai hoby olah raga, dengan begitu badanku tidak mudah sakit.  Saat jadi mahasiswa, aku masih semangat melanjutkan hoby tersebut. Biasanya aku awali dengan bersepeda dari tempat tinggalku sampai ke kampus, kemudian dilanjut lari keliling stadion. Memang capek, tapi setelah itu badanku langsung fresh. Perlu diketahui, olah raga juga salah satu cara terhindar dari Covid-19.


Keenam, lingkungan yang asri. Jika dibandingkan antara kampusku dan kampus lain di Malang, tentu kampuskulah yang lebih unggul. Klau tidak berlebihan, bisa aku ibaratkan seperti taman rekreasi. Terbukti, di sekujur jalan terdapat taman bunga, danau yang cukup luas di tengah  kampus dan sungai berantas yang mengalir deras, ditambah lagi gunung–gunung yang menjulang tinggi ke langit. Menjadikan kampus ini memikat banyak orang untuk menikmati pemandangannya.


Demikian enam alasan yang bisa aku utarakan melalui tulisan ini. mari kita bermohon kepada Tuhan supaya virus yang sekarang melanda negara kita segera dicabut dan aktvitas sehari-hari bisa normal kembali. Terakhir, bila tidak ada urusan yang urgent dan tidak punya alasan yang cukup mending #dirumahaja.. hehehe

Kategori
Tidak Dikategorikan

Gundah-gulana ditimpah Corona

Penyebaran Wabah Corona Virus Disiease 2019 (Covid-19) berhasil menggemparkan warga dunia dengan segala dampak yang ditimbulkan. Covid-19  pertama kali muncul di kota Wuhan, China. Meski gejala awal yang ditumbulkan dianggap remeh oleh beberapa orang, seperti flu, batuk, dan demam namun dapat mengakibatkan kematian yang tidak sedikit. Bahkan virus ini sudah menyebar ke berbagai negara.


Dalam rangka meningkatkan kewaspadaan penyebaran pandemi Cofid-19, pemerintah Indonesia tidak ketinggalan  ambil peran. Melalui konfrensi pers Presiden Joko Widodo, menghimbau rakyatnya agar melakukan segala aktifitas di rumah. Karena salah satu pemicu penyebaran virus ini adalah kerumunan massa.


Himbauan dari presiden ternyata mendapat  respon yang beragam di masyarakat, artinya ada yang antusias dan mengabaikan himbauan tersebut. Masyarakat Indonesia dikenal dengan sikapnya yang santai, akhirnya tidak terlalu ambil pusing terhadap bahayanya virus Corona. Terutama masyarakat di pedesaan yang jauh dari informasi terkini sehingga tidak mengetahui informasi-informasi terbaru terkait  ganasnya Covid-19.


Perguruan Tinggi yang isinya orang-orang terdidik, menanggapi persoalan ini dengan sangat serius. Melalui surat edaran rektor menghasilkan beberapa sikap, diantaranya: menghimbau mahasiswa untuk miningkatkan kewaspadaan, mengalihkan perkuliahan dengan media online, dan yang terkahir, memberi intruksi kepada mahasiswanya agar pulang ke daerahnya masing-masing hingga waktu yang tidak ditentukan.


Kulia online ternyata membuat mahasiswa terkelapar dengan segudang keluhan dan kegelisahan. Fakta yang terjadi bukanlah kulia online namun mayoritas dosen memberikan setumpuk tugas online. Tentu hal ini dapat mengurangi nilai daripada perguruan tinggi, yakni bertemunya dosen dan  mahasiswa dengan pemaparan materi yang mendalam.


Selain memberikan tugas online, masih ada beberapa dosen yang melakukan sejumlah trobosan agar bisa melaksanakan kulia online secara normal dengan menggunakan aplikasi yang mendukung tampilan vidio antara dosen dengan mahasiswa seperti aplikasi zoom dan google meet. Metode ini sungguh sangat bagus untuk diterapkan di semua mata kulia ditengah situasi genting saat ini.


Penggunaan media online tentu akan menjadi beban bagi sebagian mahasiswa yang secara finansial rendah dan akan kerepotan beli paket internet. Dampaknya adalah mahasiswa akan keluar rumah mencari jaringan internet gratis di warung-warung kopi. Hal tersebut sebetulnya tidak singkron dengan semangat pimpinan universitas meniadakan kulia di kampus guna menghindari kerumunan massa.


Dari keadaan inilah mahasiswa diuji keseriusannya dalam menuntut ilmu. Bahwasannya belajar bisa dilakukan dimana saja tanpa harus dinaungi oleh lembaga pendidikan formal. Belajar di luar kampus dan kembali ke masyarakat adalah pelajaran yang sangat berharga untuk merenungi perubahan-perubahan apa yang akan di berikan  mahasiswa kepada masyarakat kelak dimasa depan.

Kategori
Tidak Dikategorikan

Antara Kebingunganku dan harapanku

Sebagai seorang mahasiswa tentu sangat berharap bisa bermanfaat bagi orang lain. aku selalu berusaha pekah tehadap lingkungan sekitar, barangkali ada yang bisa aku perbuat, ketika orang lain mengabaikan. Sikap ini sudah tertanam sejak nyantri di Ponpes al-Hikmah Bangil. Ustadku pernah berpesan,  yang beliau singkat M2TM yaitu Memberi, Menjaga dan Tidak Merusak.


Dimanapu berada aku selalu berusaha menerapkannya. Terlebih lagi di Malang aku tinggal bersama kerabat, bukan di kos. Otomatis harus lebih pekah terhadap lingkungan rumah. Setiap pagi, aku harus membantu menyelesaikan tugas domesti, seperti nyapu, ngepel, laundy dan lain lain.


Selama tinggal di Malang, aku tidak kekurangan orang-orang hebat yang bisa aku jadikan cerminan. Mereka sungguh progresif membuat trobosan baru untuk melakukan perubahan. Aku selalu berusaha mengikuti pergerakan mereka, namun terkadang aku merasa minder bergumul dengan mereka. Setidaknya dari perkumpulan itu aku bisa mendapat wawasan baru, dengan perlahan-lahan bisa aku terapkan ditempat lain.

Sampai saat ini, terhitung sudah dua tahun aku menjalani status sebagai mahasiswa dengan berbagai rintangan. Namun ada rasa yang mengganjal untuk skedar menentukan cita-cita. Padahal di jurusanku banyak peluang yang bisa aku capai ketika lulus. seperti advokat, dosen, hakim dll. Namun Aku masih dilanda kebingungan menentukan satu keputusan cita cita. Meskipunaku tau masa depan semua manusia ada di tangan Allah swt. Menurutku, memikirkan masa depan adalah bagian dari ikhtiar untuk semangat belajar.


Semua yang aku lakukan saat ini tidak ada kata sia-sia. Dengan tekat yang kuat dan sungguh-sungguh menjalani kehidupan insyaallah akan menuai hasil yang di inginkan. Terus belajar dan berkarya, karena dengan karya manusia akan bernilai.
Sekian…

Kategori
Tidak Dikategorikan

“Pendidikan Ala Pak Anies Baswedan”

Anies Baswedan dalam sebuah pidatonya di Masjid Shalahuddin UGM, menyampaikan tentang konsep pendidikan yang perlu diterapkan oleh keluarga dan sekolah. untuk mencetak generasi yang berkualitas dan berintegritas. Dengan pembawaan yang tegas dan penuh hikmah membuat siapapun yang mendegar akan merasa penting untuk mempraktekan konsep yang beliau tawarkan.


Guru dan orang tua seharusnya paham akan perkembangan zaman yang selalu mengalami perubahan. Mendidik anak tidak akan efektif apabila metode yang dipakai masih berkaca pada masa lalu. Tantangan kedepan semakin besar, sehingga  membutuhkan model pendidikan yang terus melakukan inovasi.


Adapun konsep yang ditawarkan oleh Anies Baswedan dalam dunia pedidikan di abad ke-21. Pertama, membangun karakter atau akhlak yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Karakter ada dua macam, yakni karakter moral dan karakter kinerja. Karakter moral yaitu  iman, takwa, dan jujur. Sedangkan karakter kinerja adalah ulet, tangguh, dan tidak mudah menyerah. Diantara karakter moral dan kinerja harus sama-sama dipraktekan untuk mencetak generasi yang berkualitas.


Seiring dengan bangunan karakter oleh Anies Baswedan. Ustadku pernah menyampaikan tiga karakter yang harus dimiliki santrinya yakni kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Apabila disandingkan antara konsep Anies yang  rinci dan konsep ustadku yang gelobal. Kedua-nya sama-sama relefan untuk diterapkan di segala kehidupan.


Kedua, yakni membangun kompetensi dalam diri seorang anak yang meliputi kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif. Dari semua macam kompetensi ini sangat dibutuhkan dalam hidup bermasyarakat, terutama berfikir kreatif untuk menyambut tantangan zaman yang kian cepat melampaui batas kesiapan manusia.


Ketiga, Literasi atau keterbukaan wawasan seorang anak. literasi tidak cukup baca-tulis, dan menghitung. namun lebih luas lagi yakni baca-tulis, budaya, teknologi, dan keuangan. Menurut Anies Baswedan, literasi di Indonesia sangat tinggi namun daya literasinya yang rendah. seperti minat baca media sosial di  masyarakat  yang tinggi namun daya baca buku yang rendah.hal inilah yang perlu diperbaiki untuk menciptakan manusia yang berintelktual.


Begitulah konsep pedidikan yang di tawarkan oleh Anies Baswedan yang patut diterapkan pada anak  di lingkungan keluarga dan sekolah. Anak muda sekarang adalah penerus perjuangan dan akan menentukan baik buruknya suatu bangsa kedepannya. Maka pendidikan yang berkualitas adalah kuncinya.

Kategori
Tidak Dikategorikan

“Ternyata Kamu Muslim”

Saat ini saya sedang menempuh semester tiga di Universitas Muhammadiyah Malang atau biasa disingkaat UMM. Tentu mejadi kebanggaan tersendiri  bagi saya, sebagai anak desa yang jauh dari keramaian dan keragaman bisa masuk kampus sekelas UMM. Di kampus ini saya banyak belajar untuk menyikapi dengan bijak sebuah keberagaman, baik itu dari suku, budaya dan agama.

Seperti yang sudah diketahui secara umum bahwa setiap kali libur semester,  mahasiswa mempunyai peluang  libur yang sangat panjang, bisa jadi sampai tiga bulan. Untuk memanfaatkan moment liburan semester dua kemaren, supaya tidak sia-sia dengan main-main, maka saya gunakan untuk kursus bahasa inggris di Pare, Kediri. Karena Pare pusatnya orang belajar bahasa inggris di Indonesia, sehingga mendapat julukan dari publik sebagai kampung Inggris.

Saya mengambil kursus dengan durasi selama satu bulan, saya berangkat dari Malang ke Pare pada tanggal 9 Juli 2019.  Pertama kali masuk kelas, kita disuruh oleh tutor atau pembina untuk memperkenalkan diri satu persatu ke depan dengan menggunakan bahasa Inggris. Pada saat itu saya baru mengetahui bahwa peserta kursus tidak hanya dari orang jawa, namun terdapat juga dari berbagaimacam daerah di indonesa, seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan masih banyak lagi. Kalau saya lihat dari daerah asalnya, memang mereka mayoritas berasal dari luar Jawa dan sedang kulia di Jawa, namun ada sebagian orang yang rela jauh jauh dari Padang Sumatra Barat, datang ke jawa hanya untuk kursus bahasa inggris, sehingga tidak jarang kita akan menjumpai mereka belajar dengan sangat serius dan tidak gampang membiarkan  waktunya terbuang sia sia kecuali terus berlatih agar cepat menguasai bahasa Inggris.

Dikelas saya sendiri, tirdiri dari berbagaimacam penganut keagamaan, ada yang dari Islam, kristen dan Budha. Awal mula saya tidak mengetahui agama masing masing teman saya, karena pada saat perkenalan didepan, mereka tidak menyebutkan agama yang sedang dianut dan begitu juga saya. karena menyebutkan identitas agama  dalam perkenalan formal semacam itu, rasanya masih terlihat aneh dimanapun itu, bahkan ada yang menganggap agama adalah soal privasi yang tidak perlu di informasikan secara umum. Perlu diketahui bahwa setiap kali pembelajaran dimulai, tutor saya selalu mengawali dengan membaca Do’a sesuai dengan keyakinannya masing masing. Dari situ saya dapat mengetahui apakah mereka muslim atau bukan. seperti biasa Orang muslim setiap kali selesai do’a akan mengusapkan wajahnya dengan telapak tangan sambil dibarengi membaca “aaminn”, sebagai tanda harap supaya Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Namun ada dua orang, laki-laki dan perempuan yang berbeda sendiri dalam mengakhiri do’a, seperti orang kristen yang biasa saya lihat di TV yakni menyentu dua dadanya kemudian jidadnya. Mulai  saat itu saya sudah menangkap sinyal bahwa mereka bukan orang muslim.

Pada saat kursus saya sudah melampaui satu bulan, sebelum pulang ke daerahnya masing masing, kita satu kelas saling bertukar nomer whatshap supaya hubungan persahabatan tidak sampai pada selesainya kursus di Pare, tapi masih bisa menjalin komunikasi di media sosial. Kebetulan saya pulang ke Lamongan pada tanggal 8 Agustus 2019, tiga hari selanjutnya bertepatan dengan Idhul Adha, hari besar umat muslim kedua setelah Idhul Fitri, dengan dilaksanakan penyembelihan hewan kurban.  Sebelum pada penyembelian kurban, umat islam melaksanakan sholat Ied berjamaah di tanah lapangan. Sepulang dari sholat saya membuka hp dan melihat status whatshap, yang jelas mayoritas status di WA saya berisi ucapan “Selamat Hari Raya Iedul Adha” ketika pada status ke-lima saya dibuat kaget dan terkejut dengan foto teman saya waktu kursus di Pare namanya Diki yang sudah saya anggap sebagai penganut kristen. beliau berfoto bersama teman-temannya memakai baju busana muslim dan sarung sambil menyampirkan sajada di pundak kanannya, yang menunjukan bahwa mereka baru saja menunaikan sholat Iedul Adha. Kemudian langsung saya komentari foto tersebut untuk mengklarifikasi terhadap dugaan saya selama ini. beliau menjelaskan bahwa beliau memang sekolah di katolik dan belajar tentang katolik tapi dia seorang muslim. Akibat lingkungannya yang banyak orang katolik sehingga dia sering mempraktekan kebiasaan-kebiasaan yang menjadi ciri khas orang kristen, seperti selesai do’a, memegang dua dadanya bergantian dengan satu tangan kemudian dilanjutkan menyentuh jidadnya. Akhirnya saya meminta ma’af pada beliau karena sudah meganggap sebagai pemeluk kristen, dan beliau memaafkan karena ketidaktahuan saya.

Teman saya ini sejatinya seorang muslim, namun beliau mengakui sendiri bahwasanya wawasan seputar keislaman sangat minim sekali dan berharap besar selama tinggal di Pare, tidak hanya belajar bahasa inggris namun juga dapat belajar agama. Terbukti, dikemudian hari beliau bnayak membeli buku-buku islami yang dapat menuntunnya sebagai seorang muslim yang benar.

Dari pengalaman yang saya ceritakan diatas semoga memberi pelajaran bagi saya dan kepada siapapun yang membaca cerita ini. bahwa untuk menilai sesuatu apapun tidak cukup dilihat dari segi luar atau simbolnya saja. lebih-lebih seorang mahasiswa, orang yang berpendidikan seharusnya lebih hati-hati dan teliti dalam menyimpulkan segala hal.

Sekian..

Kategori
Tidak Dikategorikan

Pos blog pertama

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika ingin, Anda dapat menggunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengenai alasan Anda memulai blog ini dan rencana Anda dengan blog ini. Jika Anda membutuhkan bantuan, bertanyalah kepada orang-orang yang ramah di forum dukungan.