Kategori
Tidak Dikategorikan

“Ternyata Kamu Muslim”

Saat ini saya sedang menempuh semester tiga di Universitas Muhammadiyah Malang atau biasa disingkaat UMM. Tentu mejadi kebanggaan tersendiri  bagi saya, sebagai anak desa yang jauh dari keramaian dan keragaman bisa masuk kampus sekelas UMM. Di kampus ini saya banyak belajar untuk menyikapi dengan bijak sebuah keberagaman, baik itu dari suku, budaya dan agama.

Seperti yang sudah diketahui secara umum bahwa setiap kali libur semester,  mahasiswa mempunyai peluang  libur yang sangat panjang, bisa jadi sampai tiga bulan. Untuk memanfaatkan moment liburan semester dua kemaren, supaya tidak sia-sia dengan main-main, maka saya gunakan untuk kursus bahasa inggris di Pare, Kediri. Karena Pare pusatnya orang belajar bahasa inggris di Indonesia, sehingga mendapat julukan dari publik sebagai kampung Inggris.

Saya mengambil kursus dengan durasi selama satu bulan, saya berangkat dari Malang ke Pare pada tanggal 9 Juli 2019.  Pertama kali masuk kelas, kita disuruh oleh tutor atau pembina untuk memperkenalkan diri satu persatu ke depan dengan menggunakan bahasa Inggris. Pada saat itu saya baru mengetahui bahwa peserta kursus tidak hanya dari orang jawa, namun terdapat juga dari berbagaimacam daerah di indonesa, seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, Papua dan masih banyak lagi. Kalau saya lihat dari daerah asalnya, memang mereka mayoritas berasal dari luar Jawa dan sedang kulia di Jawa, namun ada sebagian orang yang rela jauh jauh dari Padang Sumatra Barat, datang ke jawa hanya untuk kursus bahasa inggris, sehingga tidak jarang kita akan menjumpai mereka belajar dengan sangat serius dan tidak gampang membiarkan  waktunya terbuang sia sia kecuali terus berlatih agar cepat menguasai bahasa Inggris.

Dikelas saya sendiri, tirdiri dari berbagaimacam penganut keagamaan, ada yang dari Islam, kristen dan Budha. Awal mula saya tidak mengetahui agama masing masing teman saya, karena pada saat perkenalan didepan, mereka tidak menyebutkan agama yang sedang dianut dan begitu juga saya. karena menyebutkan identitas agama  dalam perkenalan formal semacam itu, rasanya masih terlihat aneh dimanapun itu, bahkan ada yang menganggap agama adalah soal privasi yang tidak perlu di informasikan secara umum. Perlu diketahui bahwa setiap kali pembelajaran dimulai, tutor saya selalu mengawali dengan membaca Do’a sesuai dengan keyakinannya masing masing. Dari situ saya dapat mengetahui apakah mereka muslim atau bukan. seperti biasa Orang muslim setiap kali selesai do’a akan mengusapkan wajahnya dengan telapak tangan sambil dibarengi membaca “aaminn”, sebagai tanda harap supaya Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Namun ada dua orang, laki-laki dan perempuan yang berbeda sendiri dalam mengakhiri do’a, seperti orang kristen yang biasa saya lihat di TV yakni menyentu dua dadanya kemudian jidadnya. Mulai  saat itu saya sudah menangkap sinyal bahwa mereka bukan orang muslim.

Pada saat kursus saya sudah melampaui satu bulan, sebelum pulang ke daerahnya masing masing, kita satu kelas saling bertukar nomer whatshap supaya hubungan persahabatan tidak sampai pada selesainya kursus di Pare, tapi masih bisa menjalin komunikasi di media sosial. Kebetulan saya pulang ke Lamongan pada tanggal 8 Agustus 2019, tiga hari selanjutnya bertepatan dengan Idhul Adha, hari besar umat muslim kedua setelah Idhul Fitri, dengan dilaksanakan penyembelihan hewan kurban.  Sebelum pada penyembelian kurban, umat islam melaksanakan sholat Ied berjamaah di tanah lapangan. Sepulang dari sholat saya membuka hp dan melihat status whatshap, yang jelas mayoritas status di WA saya berisi ucapan “Selamat Hari Raya Iedul Adha” ketika pada status ke-lima saya dibuat kaget dan terkejut dengan foto teman saya waktu kursus di Pare namanya Diki yang sudah saya anggap sebagai penganut kristen. beliau berfoto bersama teman-temannya memakai baju busana muslim dan sarung sambil menyampirkan sajada di pundak kanannya, yang menunjukan bahwa mereka baru saja menunaikan sholat Iedul Adha. Kemudian langsung saya komentari foto tersebut untuk mengklarifikasi terhadap dugaan saya selama ini. beliau menjelaskan bahwa beliau memang sekolah di katolik dan belajar tentang katolik tapi dia seorang muslim. Akibat lingkungannya yang banyak orang katolik sehingga dia sering mempraktekan kebiasaan-kebiasaan yang menjadi ciri khas orang kristen, seperti selesai do’a, memegang dua dadanya bergantian dengan satu tangan kemudian dilanjutkan menyentuh jidadnya. Akhirnya saya meminta ma’af pada beliau karena sudah meganggap sebagai pemeluk kristen, dan beliau memaafkan karena ketidaktahuan saya.

Teman saya ini sejatinya seorang muslim, namun beliau mengakui sendiri bahwasanya wawasan seputar keislaman sangat minim sekali dan berharap besar selama tinggal di Pare, tidak hanya belajar bahasa inggris namun juga dapat belajar agama. Terbukti, dikemudian hari beliau bnayak membeli buku-buku islami yang dapat menuntunnya sebagai seorang muslim yang benar.

Dari pengalaman yang saya ceritakan diatas semoga memberi pelajaran bagi saya dan kepada siapapun yang membaca cerita ini. bahwa untuk menilai sesuatu apapun tidak cukup dilihat dari segi luar atau simbolnya saja. lebih-lebih seorang mahasiswa, orang yang berpendidikan seharusnya lebih hati-hati dan teliti dalam menyimpulkan segala hal.

Sekian..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s